“Keadilan dan kebenaran akan terdengar oleh orang tuli dan akan terlihat oleh orang yang buta,” begitulah sepenggal kalimat yang disampaikan oleh Kombes Pol. Sigit Haryono, S.I.K., S.H., M.H. saat mengikuti rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPR RI yang berlangsung pada Senin (18/5).
Penggalan kalimat tersebut kemudian viral di berbagai platform media sosial setelah disampaikan oleh Kombes Sigit yang saat ini menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2002 ini memiliki latar belakang panjang di bidang reserse sejak awal kariernya di institusi Bhayangkara. Setelah dilantik sebagai perwira pertama dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda) pada tahun 2002, Sigit pertama kali bertugas di Polres Kolaka, Polda Sulawesi Tenggara. Di Polres Kolaka, jejak kariernya di bidang reserse dimulai saat menjabat sebagai Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polres Kolaka. Selanjutnya, pada September 2003, ia dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Lasusua.
Setelah memimpin Polsek Lasusua selama empat bulan, Sigit dimutasi ke Polres Baubau. Untuk kedua kalinya, pria kelahiran Kota Salatiga, Jawa Tengah, ini kembali dipercaya Polri untuk memegang jabatan Kapolsek, kali ini sebagai Kapolsek Wolio sejak Januari 2004. Pengalaman kepemimpinan di tingkat polsek membuat Sigit yang memiliki hobi bermain sepak bola dipromosikan menjadi Kasat Reskrim Polres Kolaka Utara, jabatan yang dijalaninya hampir dua tahun.
Kemampuannya dalam manajemen penyidikan kemudian mengantarkannya menjadi Panit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Polda Sulawesi Tenggara hingga tahun 2007. Dari posisi Panit Tipikor, Sigit melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan menyelesaikannya pada tahun 2009.
Keahlian dan pengalaman di bidang reserse juga mengantarkan Sigit menjadi salah satu anggota Polri yang ditugaskan sebagai penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak tahun 2009. Penugasan tersebut dijalankannya setelah menyelesaikan pendidikan di PTIK.
Selama bertugas di lembaga antirasuah, Sigit Haryono menangani berbagai perkara besar dan melakukan penindakan terhadap koruptor dari berbagai kalangan, mulai dari legislatif, eksekutif, yudikatif hingga kalangan konglomerat.
Pengungkapan berbagai kasus korupsi tingkat tinggi selama sepuluh tahun bertugas di KPK tidak terlepas dari integritas yang kuat serta kemampuan penyidikan yang dimilikinya. Di tengah tugasnya sebagai penyidik KPK, pada tahun 2016 Sigit mengikuti pendidikan pengembangan karier di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia kembali melanjutkan tugasnya di KPK.
Perjalanan karier Sigit tidak berhenti di KPK. Setelah mengabdi selama sepuluh tahun di lembaga antirasuah tersebut (2009–2019), ia dipercaya menjabat sebagai Kabagbinops Direktorat Pamobvit Polda Metro Jaya sejak Maret 2019.

Jabatan Kabagbinops Ditpamobvit Polda Metro Jaya hanya diembannya sekitar satu bulan. Pada April 2019, Sigit mendapat tugas baru sebagai Kasat Reserse Narkoba Polres Metro Bekasi Kota. Menjelang akhir tahun 2019, ia kembali dimutasi dan menjabat sebagai Kasubdit 2 Fismondev Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya selama delapan bulan.
Pada Agustus 2020, Sigit memperoleh jabatan strategis dan dipercaya memegang tongkat komando sebagai Kapolres Cilegon, Polda Banten, dengan pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi.
Memimpin Polres Cilegon tentu bukan tugas yang mudah. Berbekal pengalaman yang dimiliki, Sigit berhasil menjalankan amanah tersebut selama dua tahun. Dalam masa kepemimpinannya, ia meraih penghargaan sebagai Kapolres Terbaik dalam PPKM Mikro Penanganan Covid-19 tingkat provinsi dan kabupaten/kota tahun 2021. Ia juga berhasil membawa Polres Cilegon meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dari Kementerian PAN-RB pada tahun yang sama. Selain itu, sejumlah kasus korupsi dengan nilai kerugian puluhan miliar rupiah berhasil ditanganinya meskipun saat itu sudah tidak lagi berdinas di KPK.
Jabatan Kapolres Cilegon ditanggalkannya pada Juni 2022. Setelah itu, Sigit dipercaya menjadi Wakil Direktur (Wadir) Reserse Kriminal Khusus Polda Banten. Dalam posisi tersebut, ia memperoleh penghargaan atas keberhasilannya menangani kasus mafia beras subsidi dari Kepala Bulog RI.
Setelah bertugas di Polda Banten, Sigit dipromosikan menjadi Auditor Sispamobvitnas Baharkam Polri. Ia juga memperoleh kenaikan pangkat menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) yang disandang sejak 1 Januari 2024.
Setelah menempati posisi auditor di Baharkam Polri, Sigit kembali dipercaya menduduki jabatan baru sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Nusa Tenggara Timur. Jabatan tersebut diembannya sejak Desember 2025 berdasarkan telegram mutasi yang dikeluarkan Mabes Polri.
Jejak kariernya yang luas, mulai dari jajaran reserse daerah hingga pengalaman panjang di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), membentuk sosok perwira yang tidak hanya ahli dalam penyidikan, tetapi juga mampu memimpin, mengoordinasikan, serta membangun kedekatan dengan publik.
Menurut Kombes Sigit Haryono, setiap jabatan yang diemban merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
“Dengan jabatan ini kita dituntut untuk mampu berkoordinasi dengan satuan kerja, mengintensifkan kerja sama lintas fungsi, serta menjaga dinamika operasional yang kompleks,” kata Sigit kepada ReportaseNews.com.
Era kepemimpinan Sigit di Ditreskrimum Polda NTT membawa fokus pada penyelesaian kasus-kasus sulit melalui pendekatan analitis, kemampuan koordinasi lintas satuan, serta penguatan integritas institusi.
Sejak menjabat sebagai Dirreskrimum Polda NTT, Sigit telah berhasil mengungkap kasus pembunuhan besar yang melibatkan korban Sebastian Bokol. Selain itu, sejumlah kasus lain dengan tingkat kesulitan tinggi juga berhasil ditangani, menunjukkan kemampuannya dalam mengelola penyidikan yang kompleks.

Pria yang dikenal bersahaja ini lahir dan dibesarkan di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Lingkungan tersebut membentuknya menjadi pribadi yang tenang sekaligus tegas.
Perwira menengah berpangkat melati tiga di pundak ini menekankan pentingnya transparansi publik, komunikasi yang konstruktif dengan media, serta kedekatan dengan komunitas guna membangun kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian.
Ia menjelaskan bahwa keseimbangan antara hard skills penyidikan dan soft skills manajerial menjadi kunci dalam pengungkapan setiap kasus.
“Teliti dalam mengurai fakta, fokus pada pembuktian, dan tegas dalam mengambil keputusan operasional, adalah hal yang harur terus ditekankan,” ujarnya.
Sigit yang dikenal dekat dengan masyarakat dan wartawan juga aktif dalam berbagai kegiatan komunitas melalui hobinya bermain sepak bola.
Hal tersebut tercermin dari posisinya di luar institusi Polri sebagai Presiden Klub Persikota Tangerang. Peran tersebut menambah dimensinya sebagai figur publik yang dekat dengan masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa kehidupan sosial harus tercermin dalam hubungan kerja yang harmonis, baik dengan rekan kerja maupun publik.
“Kedekatan ini tidak hanya membangun kepercayaan publik, tetapi juga memperkuat kerja sama antar instansi dalam menegakkan hukum,” kata Sigit.
Hobi sepak bola juga menjadi jembatan empati dengan masyarakat luas dan para pendukung klub, sekaligus memperkuat identitasnya sebagai figur olahraga yang disiplin dan profesional.
Dalam konteks penegakan hukum di NTT, kepemimpinannya diharapkan mampu memperkuat kapasitas penyidikan tindak pidana umum serta mewujudkan penegakan hukum yang adil dan transparan.
Pengalaman multidimensional yang dimiliki Sigit menghadirkan kombinasi keahlian teknis penyidikan dan kemampuan manajerial yang dibutuhkan untuk mengelola satuan-satuan kerja intensif di wilayah hukum yang luas dan beragam.
Sigit juga menyampaikan bahwa dengan penerapan KUHP dan KUHAP baru, pihaknya berkomitmen untuk mengedepankan keadilan restoratif dan nilai-nilai kemanusiaan di Polda NTT.









