• Redaksi
  • Kirim Tulisan
Saturday, January 24, 2026
  • Login
Hipotesa
  • Berita
    • Pendidikan
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Liputan Khusus
  • Opini
  • Tokoh Inspirasi
  • Islamika
  • Ekonomi dan Bisnis
No Result
View All Result
Hipotesa
No Result
View All Result
Home Berita

Salawatan: Corak Tradisi Lisan di Banten

Redaksi by Redaksi
May 10, 2021
in Berita
0
21
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

hipotesa.id – Banten merupakan daerah yang religius di mana Islam menjadi agama mayoritas masyarakat Banten. Dalam berbagai literatur sejarah, Islam menjadi landasan yang kuat dalam beragama dan dalam perilaku budaya masyarakat Banten. Citra tersebut tidak terlepas dari latar historis berdirinya Kesultanan Banten.

Bahkan dalam catatan Martin van Bruinessen, dalam memperkuat landasan beragama di Banten, Sultan Banten sampai mengundang para ulama Nusantara bahkan ulama Timur Tengah untuk datang dan mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat dalam jangka waktu tertentu.

Baca Juga

Jalan Rusak Parah Diduga Akibat Proyek Bang Andra, Warga Kampung Nambo Geruduk KP3B Tuntut Tanggung Jawab Gubernur dan Kontraktor

January 8, 2026

Kombes Sigit Haryono Jabat Dirreskrimum Polda NTT, Bawa Pengalaman Eks Penyidik KPK

January 7, 2026

Religiusitas masyarakat Banten juga tercatat dalam catatan Snouck Hurgronje yang mengamati langsung kehidupan masyarakat Banten, baik yang ada di Banten maupun yang tinggal di Mekkah. Ia memandang bahwa masyarakat Banten sebagai “masyarakat yang lebih taat dibandingkan masyarakat jawa lainnya dalam melaksanakan kewajiban agama seperti puasa di bulan Ramadan serta dalam membayar zakat”.

Religiusitas masyarakat Banten juga dapat dilihat dari banyak tradisi lisan keagamaan yang tersebar di seluruh wilayah Banten. Salah satu dari banyak tradisi lisan yang dapat dilihat adalah tradisi salawatan. Tradisi tersebut masih bertahan dan hidup hingga saat ini di Banten. Ratusan jenis salawatan ada di Banten, mulai dari yang berbahasa Arab, bahasa Jawa Banten, Bebasan, bahasa Sunda, maupun bahasa Melayu.

Salawatan sendiri ialah salah satu tradisi (ritual) keagamaan dalam bentuk ekspresi estetik. Sedangkan, tradisi salawatan, puji-pujian, atau si’iran, yang dalam praktiknya menyatukan unsur sya’ir dan nada yang indah, hal ini merupakan corak kebudayaan masyarakat Banten yang tercipta dari penghayatan keagamaan yang dalam. Hingga saat ini, tradisi tersebut masih dapat kita jumpai di berbagai tempat di Banten.

Tradisi salawatan dari zaman dahulu sudah ditransmisikan dari generasi ke generasi melalui lisan dengan cara menghapal dan melagukan sya’ir-sya’ir. Selain itu, tradisi salawatan juga sarat dengan kandungan makna dan kesusastraan yang tinggi. Seni sastra tersebut merupakan hasil dialog yang harmonis antara agama dan budaya lokal.

Pada dasarnya salawatan, tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat penuturnya. Karena selain fenomena sosial, salawatan juga merupakan fenomena budaya. Manusia sudah mengenal syair sejak dahulu. Kebanyakan dalam sejarah peradaban manusia syair dapat dijadikan sebagai pusat ritual. Setiap peristiwa penting dalam kehidupan manusia seringkali diungkapkan lewat syair-syair. Sebagai fenomena sosial, salawatan merupakan suatu bentuk perilaku budaya yang digunakan sebagai sarana komunikasi dan sarana dakwah.

Tradisi salawatan memiliki keindahan dari sisi makna sastrawi, juga keindahan dari sisi suara atau musik. Karena dalam praktiknya, salawatan dilantunkan dengan dendangan lagu-lagu yang harmonis untuk didengar. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi salawatan merupakan ritual keagamaan yang sekaligus sebagai ekspresi estetik yang Islami.

Dalam tradisi salawatan di Banten, kita dapat melihat bagaimana tingkat religiusitas masyarakat Banten. Serta bagaimana tradisi ini menjadi karakter dan watak yang menyatu dalam kehidupan sosial dan aktifitas keseharian masyarakat Banten. Di sisi lain, salawatan juga menjadi bukti kongkrit adanya kekayaan khazanah kebudayaan Islam dan tradisi lisan keagamaan masyarakat Banten.

Penulis: Jafra Aulia
Editor: Muhaimin

Tags: Sosial dan Kebudayaan
Previous Post

Pendaki Darel Azhar, Gelar Santunan Anak Yatim

Next Post

Birokrasi Keong dan Kerugian Masyarakat

Related Posts

Berita

Jalan Rusak Parah Diduga Akibat Proyek Bang Andra, Warga Kampung Nambo Geruduk KP3B Tuntut Tanggung Jawab Gubernur dan Kontraktor

January 8, 2026
Berita

Kombes Sigit Haryono Jabat Dirreskrimum Polda NTT, Bawa Pengalaman Eks Penyidik KPK

January 7, 2026
Berita

Dukungan Total Suporter untuk Kemenangan Adhyaksa FC Taklukan Garudayaksa di Laga Lanjutan Liga 2 Indonesia

January 6, 2026
Berita

FORWARD Agendakan Purnama Budaya, Diskusi Bulanan di Rumah Dinas Wali Kota Cilegon

December 30, 2025
Berita

PMII Mengecam Keras Sikap Arogan Ketua DPD KNPI Kota Cilegon

December 9, 2025
Berita

Layangkan Kritik Keras, IMC Sebut Slogan “KNPI Satu” Hanya Omong Kosong

December 7, 2025
Next Post

Birokrasi Keong dan Kerugian Masyarakat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rame Banget!

  • Komandan Grup 1 Kopassus, Resmikan Museum Golok

    113 shares
    Share 45 Tweet 28
  • Sambut Pilkades KMD Gelar Diskusi

    20 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Kontributor, Magang dan Kolaborasi hipotesa.id

    119 shares
    Share 48 Tweet 30
  • Akbar Johan Dilantik Jadi Ketum ALFI, MD KAHMI Cilegon: Kami Menyambut Positif

    117 shares
    Share 47 Tweet 29
  • Salawatan: Corak Tradisi Lisan di Banten

    21 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Redaksi
  • Kirim Tulisan
© 2022 Hipotesa - Diproduksi by hipotesa.

No Result
View All Result
  • Berita
    • Pendidikan
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Liputan Khusus
  • Opini
  • Tokoh Inspirasi
  • Islamika
  • Ekonomi dan Bisnis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In