Seorang teman saya, usia tiga puluh dua, tinggal sendirian di apartemen studio dengan tiga aplikasi kencan terpasang, dua grup WhatsApp alumni yang tak pernah ia buka, dan satu kalender kosong tanpa satu pun janji temu untuk akhir pekan. Ia mengeluh kesepian nyaris setiap kali kami bicara. Tapi ketika saya mengajaknya makan malam Sabtu lalu, jawabannya cepat: “Aku lagi butuh waktu sendiri.” Ia tidak berbohong. Ia juga tidak sedang jujur sepenuhnya.
Cerita semacam ini terlalu sering terdengar untuk dianggap kebetulan, dan terlalu personal untuk dijelaskan lewat satu variabel tunggal seperti algoritma Instagram. Kita hidup di era di mana kesepian dibicarakan seolah wabah yang menimpa manusia tanpa persetujuan mereka — sesuatu yang datang dari luar, disuntikkan lewat layar, diproduksi oleh perusahaan teknologi yang mengejar waktu tayang. Narasi ini nyaman. Ia membebaskan kita dari pertanyaan yang lebih menyakitkan: jangan-jangan kita yang memilih jarak ini, pelan-pelan, keputusan demi keputusan kecil, selama bertahun-tahun.
Kambing Hitam yang Sempurna
Media sosial adalah tersangka ideal. Ia terlihat, terukur, dan tidak bisa membela diri dengan cara yang meyakinkan publik. Setiap kali laporan kesehatan mental terbit, grafik waktu layar dan grafik angka depresi remaja diletakkan berdampingan, seakan korelasi otomatis berarti keduanya saling menyeret. Politisi mengutipnya dalam pidato. Orang tua mengutipnya saat menyita ponsel anak. Kolumnis mengutipnya untuk mengisi seribu dua ratus kata tanpa harus menatap cermin.
Masalahnya, generasi yang paling ribut soal kesepian akibat media sosial adalah generasi yang juga paling gencar menolak makan siang kantor, paling sering membatalkan janji di menit terakhir dengan alasan “self-care”, dan paling bangga mendeklarasikan diri sebagai introvert yang butuh ruang. Kita menciptakan kosakata baru — boundaries, me-time, energi yang harus dijaga — yang, entah disadari atau tidak, berfungsi sebagai izin sosial untuk menghindar. Dulu orang menolak undangan karena sungkan mengaku sibuk. Sekarang orang menolak undangan sambil merasa bangga, karena menjaga jarak dari orang lain sudah dibingkai sebagai bentuk kedewasaan emosional.
Padahal jarak itu ada ongkosnya, dan ongkos itu bernama kesepian.
Kenyamanan sebagai Candu yang Lebih Tua
Sebelum ada Instagram, sudah ada televisi kabel dengan lima ratus saluran. Sebelum itu, ada mobil pribadi yang membebaskan orang dari trotoar dan obrolan tetangga di halte bus. Sebelum itu, ada rumah bertingkat dengan pagar tinggi yang menggantikan gang sempit tempat anak-anak dulu main bersama tanpa jadwal. Setiap generasi punya teknologi kenyamanannya sendiri, dan setiap teknologi kenyamanan punya konsekuensi yang sama: ia mengurangi gesekan sosial yang dulu memaksa kita bertemu orang lain meski enggan.
Media sosial cuma yang paling baru, dan paling gampang difoto sebagai bukti kejahatan. Ia mempercepat sesuatu yang sudah lama berjalan pelan: pengunduran diri manusia modern dari kewajiban sosial yang tak nyaman. Rapat RT yang dulu wajib dihadiri sekarang cukup diwakilkan lewat grup WhatsApp. Arisan yang dulu memaksa tetangga bertatap muka sekarang bisa transfer via QRIS tanpa hadir. Kondangan yang dulu mengharuskan basa-basi panjang sekarang cukup titip amplop lewat kurir. Kita tidak dipaksa media sosial untuk menghindar. Kita memakai media sosial sebagai alat paling efisien untuk melakukan sesuatu yang sudah lama ingin kita lakukan: menghindar dengan sopan.
Sebaliknya, ada juga sisi yang jarang diakui: media sosial kadang menjadi satu-satunya ruang di mana orang kesepian benar-benar merasa dilihat. Grup fandom, forum penyintas, komunitas hobi obscure yang tak mungkin ditemukan di lingkungan fisik — semua itu nyata, dan bagi sebagian orang, itu satu-satunya koneksi yang bertahan lebih lama dari sebulan. Menyalahkan media sosial secara mutlak berarti mengabaikan bahwa untuk sebagian orang, layar itu justru jembatan, bukan tembok.
Tapi itulah yang bikin argumen “medsos menyebabkan kesepian” runtuh dari dalam. Kalau alatnya sama, dan hasilnya berbeda-beda antar orang, maka soal sesungguhnya bukan di alat. Soal sesungguhnya ada di kesiapan seseorang untuk terlibat dengan dunia — dan kesiapan itu sedang menurun, dengan atau tanpa notifikasi merah di sudut layar.
Ketika Kesepian Jadi Identitas
Ada satu perkembangan yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar isolasi: kesepian sudah mulai punya estetikanya sendiri. Ada genre konten “a day in my life alone” yang diputar jutaan kali, disyuting dengan pencahayaan hangat, musik lo-fi, dan narasi tenang tentang menikmati kopi pagi tanpa siapa pun di sekitar. Kesepian dijual sebagai gaya hidup yang tenteram, bukan luka yang perlu ditangani. Orang menonton video semacam itu, merasa terhubung dengan sensasi sepi yang dipoles rapi, lalu menutup laptop dan kembali ke apartemen kosong mereka sendiri — merasa validasi, bukan dorongan untuk berubah.
Di titik ini, media sosial memang berperan, tapi bukan sebagai penyebab. Ia berperan sebagai cermin yang memantulkan kembali pilihan kita, lalu membuat pilihan itu terasa indah, bahkan diinginkan. Ia tidak menciptakan kesepian. Ia mendandaninya, memberi filter warna hangat, menambahkan caption puitis, dan menjualnya kembali ke kita sebagai sesuatu yang layak dirayakan.
Coba tanya orang yang mengeluh kesepian: kapan terakhir kali mereka menelepon, bukan chat, seseorang tanpa alasan khusus? Kapan terakhir mereka datang ke acara yang mereka tahu akan canggung di sepuluh menit pertama? Kapan terakhir mereka membiarkan diri terlihat butuh, tanpa membungkusnya dalam nada santai supaya tidak terkesan desperate?
Jawabannya, buat banyak orang, sudah lama sekali. Dan itu bukan salah algoritma. Itu salah kita yang sudah terlalu terbiasa dengan kenyamanan menghindar, sampai lupa caranya bertahan dalam ketidaknyamanan sosial yang justru menjadi bahan bakar hubungan sejati. Kebersamaan yang tulus jarang efisien. Ia butuh waktu yang tidak produktif, obrolan yang tidak langsung ke poin, kehadiran fisik yang kadang membosankan sebelum akhirnya berarti.
Media sosial hanya menawarkan jalan pintas ke rasa terhubung tanpa harus menanggung risiko itu. Kita mengambilnya, bukan karena dipaksa, tapi karena jalan pintas selalu lebih menggoda daripada jalan yang benar. Menyalahkan peta karena kita memilih rute termudah adalah cara paling nyaman untuk menghindari pertanyaan yang sebenarnya: kenapa kita begitu takut pada jalan yang panjang?
Barangkali kesepian hari ini bukan sesuatu yang menimpa kita. Barangkali ia sesuatu yang kita susun sendiri, pelan-pelan, lewat ribuan keputusan kecil untuk tidak hadir — dan media sosial cuma kebetulan berada di tempat kejadian setiap kali kita memilih untuk pergi.










